Nyonya nyinyir: no longer blog engineer!

Harus yang Mahal?

15 February 2008 · 10 Comments

Sehubungan dengan maraknya pembicaraan tentang sekolah anak, baik di kantor gue yang anaknya udah mulai masuk TK atau SD, atau pembicaraan di tempat lain, rata-rata mengeluhkan uang pangkal yang nggak murah. Coba lihat di sini atau di sini.

Gue sendiri, sebagai ibu muda dengan anak yang masih bayi, akan “bingung” kalau saat ini dihadapkan pada kondisi itu. Apakah harus ikut arus di mana rata-rata lingkungan pergaulan gue akan memasukkan anak-anaknya ke play group atau TK atau SD macem LabSchool, atau Al Azhar, Al Ihzar, atau Al-Al-Al yang lainnya? atau berjalan dengan pandangan dan pengalaman gue pribadi? gue masih belum tahu pasti. Masih banyak waktu untuk berpikir. Tapi, ini masalah serius, jadi waktu yang masih banyak ini hendaknya digunakan untuk benar-benar berpikir. Gue akan dan harus mendiskusikan serius dengan suami gue.

Terlepas dari punya uang atau nggak untuk nyekolahin anak ke sekolah-sekolah mahal itu (punya uang ya syukur alhamdulillah), gue jadi berpikir, apakah worth it menyekolahkan anak di tempat-tempat mahal itu? apa saja fasilitas dan keuntungan yang mereka punya? lingkungan kah? ilmu agama kah? Bahasa inggris kah? Ber-musikkah? Berolahraga-kah? pembentukkan ahlak-kah?

Jujur gue masih bingung “apa bedanya dengan menyekolahkan anak di SD negeri yang baik tapi tetap me-leskan anak di TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) tiap sore, me-leskan anak bahasa inggris seminggu dua kali, tetap me-leskan anak bermain musik, dan tetap mengikutsertakan anak dalam klub olah raga?

Sebab sepengalaman gue yang bersekolah dan lulus dari SD Negeri antah berantah (SDN Duren Sawit 08 Pagi, ada yang tahu?) :

1. Jadwal belajar SD negeri yang relatif nggak berat dibanding di swasta (kalo di swasta yang mahal itu umumnya masuk jam 7 pagi pulang jam 4 sore) memungkinkan anak mengikuti les anu les itu les ini pada sore hari. Artinya, selain muatan yang diterima anak akan sama dengan jika bersekolah di tempat mahal (bahkan menurut gue lebih secara anak punya waktu luang banyak di sore hari untuk ikut beberapa kegiatan les), anak tetap punya banyak waktu bermain (ya iya lah.., emangnya mau tiap hari les sampe sore? kan jadwal bisa diatur), dan makin banyak orang yang bisa dikenal si anak. Jika begitu, makin banyak pula pengalaman anak beradaptasi ketimbang anak harus mengenal orang-orang yang itu-itu saja setiap harinya. 

Sebab, kalau gue menyekolahkan anak di sekolah swasta, gue nggak akan tega nge-geber anak yang pulang jam 4 sore untuk ikut les tambahan ini, les itu, les anu. Kasihan. Kapan mereka istirahat? kapan mereka bermain? bukankah masa-masa anak-anak seharusnya diisi dengan bermain? Mereka butuh banyak bermain. INGAT, anak kecil bukan miniatur orang dewasa. Gue nggak pengen karena anak kurang bahagia pas kecil (kurang bermain, disuruh belajar mulu), maka justru pas gedenya malah bandel.. semacam pemberontakan gituuu.. Pun kalau dia tetap jadi anak baik, gue takut anak akan cepat mengalami kejenuhan belajar.

2. Menurut gue, jika kita memasukkan anak ke sekolah swasta, maka sadar nggak sadar, dengan lingkungan yang hampir homogen (ya iyalah.., secara yang masuk ke situ pasti rata-rata anaknya orang berduit kan?), kita berperan dalam memperkecil empati anak terhadap orang yang nggak punya. Okay, di sekolah mereka akan diajari untuk memberi, diajari untuk menyantuni fakir miskin, dan lain sebagainya. Tapi apakah itu mengena?

Setahu gue, anak belajar dari pengalaman. Gimana anak bisa “mengerti” susahnya anak lain yang harus nabung seperak demi seperak untuk membeli buku kalau anak kita biasa dapet uang jajan 5000 rupiah per hari dan untuk membeli buku tinggal minta orang tuanya? gimana bisa anak mengerti ada orang susah di luar sana kalau yang tiap hari dihadapi adalah teman-temannya yang terbiasa ber-HP, ber-sopir? Mereka tahu kalau ada orang susah di luar sana tapi mereka nggak akan “ngerti” kalau mereka nggak punya pengalaman berteman dengan orang yang nggak punya.

Saking banyaknya yang kaya-kaya di situ, salah-salah anak kita bisa jadi minder kalo ternyata anak kita sendiri yang masuk golongan “menengah kebawah” di sekolah itu. Ini soalnya kejadian ama sepupu gue yang sekolah di L*bschool. Ada temen-temennya nggak mau lagi temenan ama dia gara-gara dia ga punya HP!!! dan anak-anak usia segitu udah bisa mengkastakan diri mereka berdasarkan harga HP!

3. Lalu, apakah menjamin dengan bersekolah di sekolah mahal itu maka anak akan bisa bersaing dengan anak lain? I do not really think so. Gue pernah merasakan bersekolah di SMU Negeri yang-katanya-terfavorit-se-Jakarta-Raya-ini. Dari situ gue belajar, bahwa asal SMP anak-anak yang bersekolah di SMU Negeri ‘terbaik’ ini sangatlah heterogen. Daannn, anak-anak yang dulunya bersekolah di TK-SD-SMP mahal itu jumlahnya nggak banyak, cuma beberapa gelintir orang. Lantas, kemana aja yang lain? Nggak tahu ya kalo ternyata mereka memilih sekolah di luar negeri dengan duit sendiri. Yang jelas, prestasi anak-anak yang dulunya sekolah di sekolah mahal itu nggak terlalu menonjol tuh. Biasa aja. Gimanapun tergantung anaknya juga kan? kalo dasarnya “nggak cerdas”, mau TK-SD-SMP nya di sekolah mahal juga ga jaminan dia bisa bersaing untuk kedepannya.

Gue tidak mendiskreditkan sekolah-sekolah mahal itu pun tidak membela mati-matian sekolah negeri. Gue hanya tidak bisa membayangkan secara tegas keunggulan menyekolahkan anak di sekolah-sekolah mahal itu, karena yang terpenting buat gue adalah peran pendidikan orang tua. Mau anaknya sekolah di sekolah macem Highscope, atau JIS atau Al-Al-Al itu, atau di Negeri sekalipun, kalau orang tuanya “nge-loss” ya sama aja boong. Anaknya nggak akan jadi apa-apa. Orang tua harus berperan sangat aktif.

Peran aktif di sini idealnya adalah ikut aktif mengajarkan pelajaran, shalat bersama, mengaji bersama, mengajarkan anak menyantuni fakir miskin secara langsung, mengajarkan anak menabung, mengajarkan prinsip “stick and carrot”, membimbing anak memilih SMP atau SMU yang baik sesuai kemampuan anak, berwisata bersama, berolahraga bersama, berkomunikasi dari hati ke hati, berkomunikasi rutin dalam bahasa inggris, mengajarkan anak menabung, tidak membiasakan fasilitas berlebihan kepada anak, membudayakan membaca, dan banyak banget deh disesuaikan dengan kebiasaan keluarga itu sebenernya. Peran orang tua harmonis juga nggak kalah penting menurut gue.

Jujur, gue masih perlu banyak diskusi dengan suami tentang hal ini.

Categories: Story of the Day

10 responses so far ↓

  • billy // 15 February 2008 at 3:03 pm

    Setuju Put, peran orang tua lebih dominan dalam pendidikan. Terlepas dimana si anak disekolahkan, sekolah mahal atau murah, mestinya orang tua yang berperan, ya untuk menanamkan budi pekerti, ngasih teladan yang baik, ngasitau kalo si anak mulai ikut kebiasaan buruk temen2nya (dengan cara yang tepat tentunya), jadi teman bicara dsb.. dsb, & nggak gampang lho. Jadi, selamat pusing jadi ibu ya Put.. :) .

  • feri // 15 February 2008 at 3:34 pm

    Ehmm… sekarang gue konsen masalah nyari-donor-buat-bikin-anak dulu deh, huehehe…

    Eniwe, emang susah sih, masak di perusahaan-oil-dan-gas-yang-produksinya-bukan-yang-paling-kecil pun juga kelakukan anak-anaknya gitu, mereka saling ngeledekin murid laen yang orang tuanya punya jabatan lebih rendah, itu orang tuanya pada ngajarinnya apa sih?? hhh… gemes gue…@#%!!

  • poer // 15 February 2008 at 4:10 pm

    yup, yang paling penting itu keluarga kok put, dan hati-hati, fasilitas kadang justru membawa dampak negatif kalau disalahgunakan.

  • poer // 15 February 2008 at 4:12 pm

    feri » emang ada kejadian gitu ya fer? ck.. ck.. ck..

  • bowo // 15 February 2008 at 5:02 pm

    dan waktu kuliah di Bandung tetep aja anak2 lulusan sekolah swasta mahal Al-Al an bisa diitung jari hihihi…atau karena ortu mereka kaya kali bo, sisanya banyak sekolah di luar negeri hihihi

    tapi tetep gue TK-SMU pilih negeri yang bonafid aja. dan kesian banget kalo masih SD harus pulang jam 4 sore…lama2 10 tahun lagi, sekolah swasta itu jam belajarnya jam 8 pagi – 8 malam…biar kaya orang kantoran huakakakaka

  • ari3f // 16 February 2008 at 12:27 am

    Enak sekolah di Bondowoso – murah, dekat rumah dan ujung-ujungnya macul di kota besar hehe…(tanya Webiii)

  • yuli // 18 February 2008 at 7:47 am

    Ternyata kita udah mikirin hal yg sama yg Put. gw setuju bagnet…masa anak2 itu masanya bermain,mengeksplorasi kemampuan diri dan masanya mengenal banyak hal (baik orang maupun lingkungan). asal kita sbg ortu mendidik dengan baik gwy akin anak kita ga akan kalah persaingan di masa depan (asal kita jg memfasilitasi kebutuhan untuk perkembangan mereka juga)….mungkin nanti kalo udah waktunya kuliah baru deh kita pilihkan univ yg bonafid (secara univ dalam negeri-pun harganya ga kalah ma kuliah di LN)…

  • Putie // 18 February 2008 at 11:38 am

    >> All..

    Yup, bener sekali, mahal belum tentu bagus.
    Tergantung gimana anaknya, dan orang tuanya.

  • manusia_biasa // 20 February 2008 at 1:34 pm

    Aduh put.. masalah sekolah mahal/murah tuh kayak mobil mahal/murah yang bertanding dalam sirkuit nan panjang yang terdiri dari berbagai jenis etape ajah. Lebih banyak tergantung dari drivernya, kalo emang jago yah mau naek mobil biasa juga kalo bisa tau trik dan medan yang dilalui, apalagi kalo mobilnya mendukung bisa naek lagi dah performanya. nah kalo nggak jago drivernya dapat ditingkatkan dengan ditambah cc mesinnya, diringankan massa mobilnya, dll yang secara matematis bisa membantu sang driver tapi balik lagi kualitas sang driver dalam mengoptimumkan semuanya. Nah berarti bisa disimpulkan kita harus fokus ke drivernya kan, terlebih masa “pembentukannya” hahahaha

  • Bu DE Ira // 21 February 2008 at 8:19 am

    Puti, berdasarkan pengalaman beberapa orang yang curhat sama gue soal sekolah anak, intinya dasar pendidikan itu adalah dari rumah dulu, lingkungan keluarga itu udah pasti banget pengaruhnya kuat banget, contohnya Kalisha waktu pertama kali mau nyekolahin dia gue bingung setengah mati harus dimana, karena biayannya yang nahal-mahal, plus tempatnya yang jauh dari rumah, padahal niat gue nyekolahin cuma pengen dia bersosialisasi aja, karena dia selalu ada di lingkungan orang dewasa dan deket-2 rumah jarang ada anak kecil, jadi biar dia ngga kuper aja, akhirnya gue putusin sekolah deket rumah yang mungkin “biasa-biasa” tapi lumayan juga kalo menurut kantong gue…tetapi setelah gue perhatiin cara belajarnya emang sgt konvensional banget yah..yah mungkin karena gue ngeliat gurunya masih muda banget, baru lulus gitu deh….tetapi lumayan lah anak gue sekarang udah rada banyak kebisaan, setidak belajar bergaul…nah sekarang ini kebenran deket rumah ada sekolah baru preschool islamic gitu, kan setiap hari kita lewatin tuh..dan anak gue minta pindah katanya bosen di sekolah yang lama..iyy males banget ngga seh masih umur 3,8 th minta pindah sekolah….gue cuma pgn sharing aja…setelah gue perhatiin kayanya peran orang tua paling penting untuk tumbuh kembangnya, yang gue akui juga gue masukin sekaloh anak karena mungkin gue merasa bersalah juga..karena kita kan kerja dan cenderung pengen ada orang yang bisa ngajarin walaupunn peran orang tua ngga bisa digantikan ole siapapun…ngga jamin juga sekolah di yang mahal bikin anak kita super duper deh..yang penting gimana caranya kita bisa maksimalin kemampuan dan bakat anak kita biar bisa optimal…….

Leave a Comment