Nyonya nyinyir: no longer blog engineer!

Jilbab

2 April 2009 · 16 Comments

Gue punya pandangan yang agak nyeleneh soal jilbab, dan pasti akan sangat nyeleneh untuk mereka yang rohis banget gitu deeehhh. Kalo untuk yang satu ini gue tidak siap untuk berdiskusi dan dienyek-enyek oleh para aktivis muslim :D hehehe. Kalo mau komentar silahkan, tapi nggak akan gue tanggepin, takut salah debat.

Anyway, gue nulis ini bukan nunjukin kalo gue kontra jilbab.. gue cenderung masih dalam posisi nggak yakin hukumnya jilbab bagi wanita. Perlu diketahui, ini bukan hasil didikan keluarga, karena nyokap dan adik-adik gue pake jilbab semua :) Trus bukan juga untuk pamer bodi, atau pamer wajah, atau pamer rambut.. no no no! Mine are not that beautiful, I realize. Jadi jangan pada nyinyir ya nyangka “Ooo lo nggak mau pake jilbab mau pamer body ya?”, Hihihi, ke laut aja deh mendingan kalo ada yang nyangka gitu.

Jadi buat gue, masalah jilbab ini kayak masalah agama juga: Lu-lu-gue-gue. Lu mau pake jilbab gue nggak merasa terganggu, jadi ya nggak perlu ganggu-ganggu gue untuk pake jilbab :)

Jadi, mengawali pendapat, gue setuju dengan klausul sbb:

1. Wanita diciptakan dengan banyak keindahan di tubuhnya

2. Laki-laki adalah makhluk visual, yang bisa “berdiri” even hanya dengan melihat betis seorang wanita (konon seperti Ken Arok dan Ken Dedes)

3. Maka dari itu, gue sebagai seorang konservatif juga setuju kalau seorang wanita harus berpakaian yang sopan, menutup aurat, dan tidak “mengundang” perhatian para lelaki.

Nah, berdasarkan tiga klausul di atas, gue jadi mikir kembali: Sopan bukan berarti harus berjilbab, kan?

Gue kadang-kadang mikir kenapa ya banyak orang kadang terlalu ngejiplak “plek” apa yang ada di arab sana untuk diterapkan di sini.. karena menurut gue begini:

1. Wanita di arab sana pake jilbab ya pantes aja mengingat di sana panas dan kelembaban udaranya rendah. Kebayang aja kalo nggak pake pakaian yang longgar-longgar dan menutupi seluruh tubuh bakal dehidrasi. Nggak cuma wanita aja, pria-pria di sana juga pake baju yang serupa bukan? Nah, berhubung di sini kelembabannya tinggi dan bikin gerah, sedangkan gue yakin islam itu tidak menyusahkan umatnya, apakah harus pakai jilbab?

2. Kayaknya pria-pria Indonesia nggak seberangas orang-orang di Arab sana deh terhadap wanita. Maksud gue, pria-pria kita masih baik-baik dan masih menghargai wanita lah. Konon kenapa nabi-nabi diturunkan di jazirah arab ya karena kelakuan mereka yang jahiliyah dari dulu.

Ya tapi balik ke klausul gue tadi, tentunya namanya pria, kayak kucing aja, dikasih dendeng siapa sih yang nggak ngembat? Maksudnya, sebaik apapun pria-pria Indonesia relatif terhadap pria-pria arab, tapi kalo wanita-nya berpakaian mengundang, ya pria mana yang nggak jadi birahi tinggi? makanya, berpakaianlah yang sopan! Tapiii, sopan bukan berarti harus jilbab kan? :)

Karena penasaran, gue pernah beli bukunya Quraish Shihab yang judulnya Jilbab Pakaian Wanita Muslimah (Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer).

Yaaaa, seperti biasanya, tulisan-tulisan Quraish Shihab: mengemukakan seluruh dalil lengkap antara ulama-ulama yang pro dan yang sedikit tidak pro (dibilang kontra banget juga nggak sih), mengemukakan dalil di Quran dan hadis, dan mengemukakan pandangan dia sendiri yang umumnya bersifat sangat abu-abu dan akhirnya pembaca juga yang harus berijtihad memikirkan “Apa ya kesimpulan akhirnya?”.

Bukannya mencari pembenaran sih, tapi kalau baca di situ, Al-Quran emang mewajibkan wanita untuk menutup auratnya, TAPI nggak pernah menyebutkan secara tegas batas aurat wanita. Trus kalau melihat keluarganya Quraish shihab sendiri, trus juga Keluarganya Gusdur, dan Amin Rais, kayaknya anak-anak wanita mereka dan istri-istri mereka nggak pada pake jilbab ya? CMIIW. Pernah mikir nggak kenapa ulama sehebat mereka bisa mengizinkan anggota keluarganya yang perempuan untuk tidak berjilbab?

Sementara sih gue masih terombang-ambing tentang masalah jilbab, tapi gue setuju kalau kriteria pakaian sopan seorang wanita: Tidak ketat, tidak transparan, dan tidak memperlihatkan bagian sekitar payudara-pundak-punggung-perut-pinggul-dan paha sampai dengkul. Yaaa, berhubung nggak dinyatakan jelas di Al-quran, emang mungkin untuk amannya pake jilbab sih ya?! Allahualam lah.

Soal perempuan harus memakai rok dan nggak boleh celana? I don’t think so. Yang disebut “Pakaian wanita janganlah menyerupai laki-laki”, bukannya karena laki-laki bisa bertelanjang dada? itu yang tidak boleh diserupai oleh para wanita. Bukan begitu?

Lagian masalah akhlak juga bukan..?  maksud gue, bukan berarti akhlaq dan tingkat keimanan bisa diukur dari jilbab yang dipake, kan?

Kadang-kadang gue suka sebel aja sama mereka yang berpikiran terlalu picik, yang menganggap dirinya lebih beriman dibanding yang lain hanya karena mereka berjilbab taplak dan bercadar (wanita berjilbab modern pun, apalagi yang nggak pake jilbab kayak gue, suka dianggap nggak “selevel” sama mereka). Jadi seringkali mereka nyindir-nyindir, bahkan sampe maksa orang lain supaya pake jilbab yang modelnya sama ama mereka. Iiihhh, look who’s talking gitu lhooo..

Untungnya, suami gue bijaksana sekali untuk tidak memaksa gue memakai jilbab :) Makasih sayang! Gue pernah diskusi soal ini sama dia, different reasons though, but in fact pandangan kami ternyata nggak jauh berbeda. Menurut salah satu ulama dalam ceramah yang pernah didengar suami, malah maksudnya “jilbabilah kepala dan dadamu” bukan tersurat bahwa kita harus pake jilbab yang saking panjangnya udah kayak taplak meja aja.. tapi yang perlu “dijilbabi” adalah pikiran dan hati :)

Dulu gue pernah menganggap jilbab adalah wajib dan biasa dipake oleh wanita-wanita di Indonesia ini setelah mereka tua. Makin gue besar, gue makin menganggap itu cuma bagian dari fashion.. Kenapa bisa begitu? ya nggak tau ya kenapa gue bisa berpikir kayak gitu. Tapi kalo dilihat omongan ulama di atas, ya masuk akal aja sih. Buat apa pake jilbab kalo pikiran dan hati nggak bersih?

Kalo menurut gue, jilbabilah hati dan pikiranmu juga mencakup masalah sikap juga kalau bertemu dengan pria yang bukan suaminya. Jangan berperilaku mengundang alias kecentilan meskipun udah pake baju tertutup. Contoh: suara dimanja-manjain, jalan dilenggak-lenggokin, mata digenit-genitin.. beeuuhhh ga seneng banget gue tipe cewek yang beginian.

Wallahualam..

Categories: Pengalaman Pribadi

16 responses so far ↓

  • miaw // 6 April 2009 at 4:31 pm

    etto… Ada hal-hal yang saya setuju dg anda yaitu bukan hanya kepala saja kita tutupi/lindungi tetapi juga hati, pikiran,sikap dan badan kita juga harusnya di ‘jilbab’kan. Bukan hanya kepala aja.Mia juga setuju jika masalah kita make jilbab atau tidaknya itu adalah pertanggungjawaban antara kita personal dengan Allah. jadi, pihak ketiga ga usah usil. cukup ngasih masukan en mendoakan agar kita insyaf n buka hati buat berjilbab hahahaha

    mengenai pertanyaan anda tentang hukumnya berjilbab, InsyaAllah ini bisa menjadi jawabannya. Mengenai permasalahan jilbab emang wajib hukumnya dalam islam, karena Allah sudah berfirman di dalam surat Al-Ahzab 59. “Di dalam Al-Quran dinyatakan, Wahai Nabi, katakan kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita Mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga tidak diganggu.”

    Selain itu, jilbab diperintahkan Allah kepada wanita mukmim sebagai identitas mereka (membedakan mereka dengan wanita non muslim)

    Mia sendiri juga masih belom memakai jilbab, karena belum ada ‘panggilan’ hati yang kuat untuk berjilbab. tetapi mia ga cuma menunggu panggilan hati aja, tetapi juga disertai usaha untuk terus memupuk hati agar segera berjilbab (amiieeen…) karena, jika bukan dari hati kita sendiri menyadari akan pentingnya kewajiban ini (sama kayak halnya sholat) maka cepat atau lambat, ntar jilbabnya kita buka deh. Banyak teman2 mia kayak gitu, waktu SMU mereka pake jilbab (krn disuruh ortu) eh, pas kuliah karena jauh dari ortu, mereka malah ngelepas jilbab. Ini sama aja kayak memperolok Tuhan rasanya. Jadi pengen make jilbab emang berasal dari kesadaran diri untuk beribadah karena Allah, bukan karena paksaan atau apapunlah namanya.

    Ada juga pendapat anda yang mia kurang setuju. Pendapat yang ini: “Gue kadang-kadang mikir kenapa ya banyak orang kadang terlalu ngejiplak “plek” apa yang ada di arab sana untuk diterapkan di sini”

    Menurut Mia, perintah berjilbab oleh Allah, ga hanya untuk orang Arab aja deh, tetapi untuk semua kaum muslimin (wanita islam) didunia. karena apa?
    Selain berdasarkan perintah Allah di ayat Al-Ahzab, rambut termasuk juga sebagai aurat wanita. walaupun rambut kita ga bagus seperti cewek sunsilk (iklan dikit hahaha), tetapi dengan rambut, wajah wanita bisa terlihat lebih cantik daripada ga berambut (bandingin ma laki2, walo ga berambut, tetep aja gagah. contohnya, samuel rizal, pemain basket NBA dan cwo2 botak lainnya. ok2 aja tuh tampang mereka meski krisis rambut. Lah cewek tanpa rambut???aneh banget ngeliatnya. jadi ilang kadar kecantikkannya) Karena itulah rambut termasuk aurat dan hanya diperbolehkan diliat oleh suami dan muhrimnya sendiri. Karena kecantikkan seorang wanita (khususnya istri) hanya untuk suaminya hehehehe romantis amat ya islam^^.
    Dan satu lagi, jilbab adalah identitas wanita muslim :D

    Semoga kita semua mendapat petunjuk yang terbaik dari Allah. Amieeen….

  • miaw // 6 April 2009 at 4:35 pm

    btw, maaf kl komentnya kepanjangan…sumpah, ga sadar bisa sepanjang itu hahaha ni gara2 kebiasaan nulis, suka ga nyadar kalo dah nulis panjang lebar :P

  • d3stealther // 18 June 2009 at 5:24 pm

    sopan yg islami untuk prempuan ya berjilbab mba, ga mandang mo di arab atau bukan, adakah diayatnya yg mengindikasikan bahwa pake jilbab karena cuaca panas di arab? kalo emang khusus untuk disana, ya pasti ayatnya ngejelasin, itu cuma untuk disana yg panas dan/atau karena masyarakatnya yg jahil. tapi liat lagi perintah ayatnya itu pake jilbab untuk semua perempuan muslim dimanapun berada mba, mo cuaca panas kek nggak kek, kelembaban tinggi atau rendah kek, tetep aja namanya perintah agama ya seharusnya di taati ga ada pengecualian. ya kecuali sama suaminya bolehlah mo pake pakaian seksi kaya apa juga, terserah, dan sama ornag2 yg dijelasin sama ayat itulah. sopan itu relatif mba, tapi islami ga? kalo mba bilang sopan kan ga harus pake jilbab, ya itu sopan yg ga islami. jelas kan?

    soal ulama2 yg punya anak2 prempuan mreka yg ga berjilbab, itu urusan mereka, inget, tanggung jawab selaku ortu apalagi ulama terhadap keluarganya itu tetap akan dipertanyakan diakhirat nanti, knapa kok anak2 prempuannya ga dididik islami? berat pastinya. kenapa berat? ya karena sudah ada perintah yg jelas di quran tapi kebanyakan mereka tidak melaksanakannya.

    masalah quran ga menyebutkan secara tegas batas aurat wanita, ya gini mba, belajar quran ga cuma sekedar baca2 ayat2nya dan arti2nya aja, ayat2 quran itu terbagi, ada yg jelas ada yg butuh penjelasan, nah masalah yang tidak jelas, liat donk ke azbabun nuzulnya dan atau liat deh hadis2 nabi mengenai hukum berjilbab disitu dijelaskan secara tegas batas2nya. Nabi itu pasti menjelaskan ayat2 yg samar bagi umatnya. skarag gini, adakah perintah solat lima waktu/lima kali sehari? disebutin ga tuh nama2 solatnya juga? tentu ga ada kan? dari mana kita tau? ya pastinya dari hadis dan/atau riwayat2 yg menjelaskan ayat2 yg samar. bgitu mba.

    emang bener, bjilbab itu ga mesti orangnya berhati bersih dan baiklah pokoknya, tapi setidaknya kebanyakan dari mreka yg berjilbab pasti lebih banyak terjaga kesucian ruhaninya dari pada mereka yang tidak berjilbab, itu fakta, walopun ada aja yg bejilbab tapi berakhlak buruk. ga usah liat dari situnya mba, liat aja dari diri kita bagaimana keikhlasan hati kita dalam menjalanin agama ini. urusan hati itu Allah yg menghukuminya nanti. setidaknya kita berusaha untuk mentaati aturan2 agama walaupun ada aja orang yg bilang hal ini berat, tapi setidaknya usaha itu ada.

    jgn sampe salah ikut pengajian mba, kalo ada ustad yg menafsirkan ayat berjilbab itu bermaxut jilbablah pikiran dan hatinya tapi ga perlu pake jilbab kain kudung di badan, ya itu perlu dipertanyakan akidahnya si ustad itu mba, apa dasarnya dia?… itu baru nyeleneh, bahkan bisa menyesatkan… kalo maxutnya hanya sekedar hikmah ya okelah, tapi jgn menyelewengkan maxut arti jilbab sesungguhnya di ayat itu ya mba, bilangin ke ustadnya.

    ati2 pengaruh jahat iblis itu dahsyat, dia bisa bikin orang melihat sesuatu yg salah itu jadi benar…

    “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” QS. 50:37

    careful dears..

  • Putie // 22 June 2009 at 9:00 am

    Ehm, terima kasih nasihatnya mbak. Saya nggak mau debat ah soal ini. Ya doakan saja supaya saya bisa mengubah pandangan saya kembali seperti dulu. Dulu saya juga pernah lho ada di posisi anda, menganggap jilbab itu wajib.

    Makin banyak saya baca buku yang memuat banyak ayat Quran, hadis, dan pendapat ulama, Saya jadi malah tambah bingung. Kesimpulan saya sementara ini, kok jadinya malah saya bingung jilbab itu wajib apa nggak :)

    Perlu diketahui, saya orang yang konservatif, bukan liberal. Jadi saya pun cenderung memilih berpakaian sopan, menutup aurat, tidak menonjolkan lekuk tubuh, dan tidak transparan. Begitupun soal perilaku. Saya termasuk yang konservatif. Sangat menjaga hubungan dengan non-muhrim agar tidak menjadi fitnah, tidak suka dugem, berusaha menjalankan perintah agama dengan baik, dan cenderung family-man.

    Mungkin anda bertanya: “Ya udah sih, kalo gitu sekalian aja pake Jilbab!”

    Itu yang saya masih cenderung enggan untuk saat ini. Saya berpendapat sama dengan pak Tifatul (yang sedang ramai dibicarain orang-orang) kalau jilbab itu masih masalah selembar kain. Jujur, saat ini saya menilai jilbab dan akhlak bukan sesuatu yang otomatis saling berhubungan. Karena terus terang citra jilbab sedikit turun di mata saya akibat wanita-wanita berjilbab taplak itu sendiri.. membuat saya jadi enggan berjilbab.

    Mereka cenderung memaksa orang berjilbab, dan menganggap dirinya lebih beriman kalau pake Jilbab. Soal beriman apa nggak kan sesuai yang anda juga bilang: Allah judge it. Bukan mereka yang men-judge.

    Jadi harusnya cara mereka berdakwah soal jilbab kepada wanita yang tidak berjilbab seperti saya adalah dengan merangkul. Bukan malah menunjukkan bahwa mereka lebih beriman daripada saya. Dari situ aja udah kelihatan kan siapa yang merasa lebih tinggi? bagaimana anda bisa bilang wanita berjilbab lebih terjaga hatinya? Menurut saya, merasa lebih beriman dari orang lain saja sudah tanda-tanda hati nggak terjaga lho.

    Wanita berjilbab yang baik akhlak dan hatinya memang banyak, tapi banyak juga lho yang nggak. Nggak percaya? mungkin anda masih harus lebih banyak berhubungan dengan orang :) Jangan cuma lihat luarnya yang memang tampak sopan dan tampak terjaga, tapi perhatikan sikap, tingkah laku, dan perilakunya. Jadi apa bedanya dengan wanita-wanita yang nggak berjilbab? wanita nggak berjilbab tapi baik akhlak dan hatinya banyak juga kok, yang nggak baik juga banyak. Sama aja toh? Jadi saya masih melihat jilbab adalah masalah preferensi mode berpakaian.

    Tapi, dengan begini bukan berarti saya nggak akan berjilbab untuk selamanya. Bukan nggak mau, tapi saya cenderung masih bingung hukum berjilbab. Saya berjilbab suatu saat nanti? Hope so. Saya open mind kok. Mudah-mudahan saja ada yang bisa menggerakkan hati dan pikiran saya kembali seperti dulu sebelum pada masa-masa sebelum saya kuliah: menganggap jilbab itu wajib.

    Salam.

    PS: Kalau shalat sih nggak usah didebatin. Itu wajib, dan itu di-state dengan gamblang di Quran. Masalah berapa rakaat dsb emang kita ikuti sunah rasul sebagai panduan. Saya setuju.

  • d3stealther // 22 June 2009 at 1:47 pm

    knapa musti bingung, hukumnya jelas wajib bagi perempuan balig. yg mengatakan tidak wajib itu ya orang2 yang masih dipertanyakan akidahnya. baratlah yg membuat orang2 seperti mba ini kebingungan, pengaruh dari pemikiran2 merekalah yang membuat mba bingung. yah, pemikiran ala barat mengenai jilbab ini ga cuma ada di otak orang2 yng modern aja, bahkan kebanyakan sekarang ulama2 berjubah islam pun satu pemikiran dengan mereka. jadi, pintar2lah melihat perkembangan islam di dunia khususnya di dalam pemikiran2 islami. inget mba, banyak di dalam alquran yg mengisyaratkan kepada kita bahwa kebanyakan umat manusia berada di jalan yang salah, ga mandang mereka itu ulama berjubah, terlihat berakhlak atau ga. so, hati2. pemikiran2 islam itu mengalami distorsi sejak dulu. dan semakin rusak karena ditambah pengaruh barat yg benci dgn islam khususnya jilbab perempuan. akibatnya banyak orang2 islam yg awam pun terjerat dalam pemikiran2 sesat mereka. tidak lain mereka membenarkan apa yang salah dan menyalahkan apa yang benar. inilah yg dimaxut mereka telah dibutakan hatinya.

    “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS.6:116)

    memakai jilbab itu ga ada paksaan mba, itu urusan hati, kan mba tau sendiri. saya hanya ingin meluruskan pandangan mba soal jilbab. sopan itu relatif mba, orang2 non muslim banyak yg sopan, bahkan banyak dari mereka yg lebih sopan dari orang islam itu sendiri. bahkan banyak non muslim yg lebih beraklhak, banyak juga non muslim yg menjaga hubungan dengan yg non muhrim agar tidak menjadi fitnah. kalo mba mo sopan tanpa berjilbab itu silahkan, tapi saya katakan, itu sopan, tapi tidak islami. sopan yg islami untuk perempuan balig ya berjilbab, itu aja sih.

    saya sangat setuju berjilbab itu bukan jaminan lurusnya ruhani seseornag, ga usah urusan jilbab deh, solat aja, orang banyak yg solat tapi apa iya itu jaminan baik dan benarnya ruhani seseorang? ga kan? banyak bgt orang yg rajin solatnya bahkan sampe solat2 sunahnya. tapi tetep aja banyak juga dari mereka yang masih buruk hati dan akhlaknya. apakah itu membuat mba jadi enggan untuk melaksanakan solat? itu perumpamaan aja.

    masalah sikap perilaku orang2 yg berjilbab itu buruk atau tidak, merasa diri lebih beriman karena berjilbab atau whateverlah, dgn adanya orang2 kaya mereka itu bukan jadi hambatan kita untuk melaksanakannya mba. tetap saja jelas hukum berjilbab itu wajib bagi perempuan balig yang sadar dan tau bagaimana harus bersikap sebagai perempuan muslimah. ga ada paksaan mba, solat juga ga dipaksa kok. terserah orang mo jalanin apa ga, yg penting sudah ada perintahnya. balik ke masalah kesadaran diri aja. knapa mba musti pusing tentang hukum berjilbab dgn adanya orang2 berjilbab yg mungkin terlihat sok beriman?

    ow, saya mnegerti knapa mba jadi berpikiran seperti ini.. huehehe… spertinya sentimen dgn kawan2 yg berjilbab tapi sok beriman gitu kah? ga usah di ambil hati mba, mungkin niat mereka baik, tapi caranya yg salah. ga usah diliat lagi cara mereka berdakwah kalo menurut mba cara mereka itu salah atau sok beriman, liat aja apa yang mereka dakwahkan. ada pepatah ‘ambillah ilmu sekalipun itu keluar dari mulut keledai’, thats it. yg terpenting, untuk mereka yg berjilbab akan lebih baik dan terjaga kehidupannya dari pada mereka yang belum berjilbab. gini aja mba biar ga ribet, masalah berjilbab itu wajib hukumnya, tapi urusan hati itu Tuhan. mudahkan?

    jilbab adalah masalah preferensi mode berpakaian? bisa juga, berlaku bagi mereka yang cuma sekedar iseng berjilbab. tapi pikiran seperti itu jgn dijadikan dalih keengganan untuk berjilbab dan/atau tidak wajibnya hukum jilbab ya. smuanya balik ke kesadaran diri mba. skali lagi, pake jilbab itu ga ada paksaan. tapi tetap di dalam islam hukumnya wajib, karena perintah jelas dari alquran berserta penjelas2nya di dalam hadis nabi saw sperti halnya solat.

    PS: kan mba bilang “TAPI nggak pernah menyebutkan secara tegas batas aurat wanita”. ya saya kasih analoginya dgn solat, apa iya ada secara tegas nama2 solat disebutkan di dalam ayatnya? ga ada kan? ya kita bisa liat dari hadis yg menjelaskannya. Skrg dari mana kita bisa ketahui secara tegas batas aurat wanita? ya dari hadis nabi pastinya, gitu loh mba. bukannya saya memperdebatkan masalah hukum solat. mengertikah?

  • Putie // 22 June 2009 at 4:34 pm

    Saya mengerti kalau tuntunan utama umat islam adalah Al-Quran. Ketika Al-Quran tidak menyebutkan detil, maka aculah hadis/sunah rasul. Ketika hadis/sunah rasul tidak juga menjelaskan, maka kita bisa berijtihad.

    Saya juga mengerti kalau Al-Quran cuma nyebutin wanita wajib menutup aurat. Secara di Quran nggak disebutin detil batas aurat, harusnya kita mengacu ke hadis ya untuk mengetahui detail bagian tubuh mana aja sih yang merupakan aurat. Tapi hadis apa ya mbak yang sahih dan menyebutkan batas aurat wanita?

    Btw, makasih ya infonya :) tapi saya rasa soal akidah islam cuma Allah yang bisa nilai. Saya masih dalam posisi nggak yakin hukumnya berjilbab, tapi insyaAllah tetap berada dalam koridor islam. Apakah berarti akidah saya lebih buruk ya daripada mereka yang dengan sadar berjilbab tapi dugem dan minum..? Wanita berjilbab pergi parti ke kelab malam dan minum? jangan salah lho, ada! Jadi, lebih burukkah saya dibanding mereka hanya karena saya masih ragu soal wajibnya berjilbab? cuma Allah yang tahu :)

  • d3stealther // 23 June 2009 at 5:01 pm

    soal penjelasan detil batasan aurat dari hadis/sunah yang sudah disepakati (baca: sahih) insyaAllah akan saya kumpulkan untuk mba supaya bisa dikaji lagi dan smoga bisa menyadarkan dan meyakinkan mba bahwa hukum jilbab itu wajib bagi perempuan muslim yg telah balig -tanpa ada paksaan-.

    mo lurusin aja, di akhir zaman ini untuk persoalan akidah islam mana yang benar dan mana yang salah itu seorang muslim yg berakal bisa mengetahuinya, bahkan tiap muslim harus mengetahuinya agar tidak tersesat, dgn syarat dia memposisikan dirinya sebagai pencari kebenaran (seorang yg netral), dan jauh dari fanatisme2 mazhab, karena begitu banyak penyimpangan2 paham/pemikiran di dalam islam yg tersebar skrg ini. jadi soal akidah bukan cuma Allah aja yg tau, kalo cuma Allah saja yang tau buat apa akal diciptakan, sedangkan kesesatan merajalela dan tiap muslim harus mencarinya mana yg benar. kecuali persoalan hati, itu hanya Allah yg tau.

    kembali ke jilbab:)

    mba, kalo pake jilbab tapi sikap perilakunya buruk tetap saja dia dikatakan buruk ga ada baik2nya. hal itu ga usah dipermasalahkan lagi di diri mba, biarlah itu urusan mereka yang berjilbab tapi rusak. apalagi dugem dan minum2, ya jelas itu diluar dari koridor islam, bukan berakidah lagi mba. saya tau mereka itu ada. apakah itu jadi masalah buat mba dgn adanya mereka yg berjilbab tapi rusak? jadi hambatan? kan mba sendiri tau, ga semuanya seperti itu? ya lihatlah mereka2 yang berjilbab tapi hidup islami, berakhlak baik, berilmu, tawadhu dsb. contohlah mereka yg itu, jgn lagi liat yg rusak2, buat apa? yg tidak berjilbab pun banyak yg rusak, bahkan lebih banyak toh? Alquran sudah memberitahukan kepada kita bahwa KEBANYAKAN dari umat manusia adalah berada dijalan yang sesat, di dalam islam sekalipun, termasuk yg berjilbab apalagi yg ga berjilbab.

    mba, misal ada 10 wanita berjilbab tapi hanya ada 2 yg berhati baik, di lain sisi ada 10 wanita juga tapi tidak berjilbab, tapi diantara mereka yg tidak berjilbab itu ada 8 yg berhati baik, skrg apakah yg 8 wanita tidak berjilbab itu akan melebihi kebaikan 2 wanita yg berjilbab? tentu akan selalu mereka yg berjilbab dan berhati baik yg unggul, inget KEBAIKAN itu penganutnya cuma sdikit.

    well, dimana2 kalo berjilbab tapi kehidupannya buruk ya tetep aja buruk donk mba, ga ada artinya jilbabnya itu. dibanding dgn perempuaan yg blum berjilbab tapi dia berusaha untuk mencari kebenaran berjilbab dan dia selalu berusaha untuk hidup dgn baik dan benar ya jelas dia lebih baik donk dari pada yg sudah berjilbab tapi kehidupannya rusak. tapi tetep aja dia ga bisa melebihi kebaikan perempuan yg sudah berjilab lagi berlimu, berakhlak baik, berhati baik, tawadhu dll selama dia masih dalam pencarian. dan tapi lagi, kalo si perempuan yg mencari kebenaran jilbab itu menemui kebenaran berjilbab dan dia meyakininya tapi dia tidak juga melaksanakannya walopun dia hidup sewajarnya sebagai seorang perempuan baik2, itu akan jauh lebih buruk ketimbang yg berjilbab yg kehidupannya rusak:) loh kok gitu? lah iya donk… Allah akan mencapnya sebagai seornag yang munafik. analoginya, orang islam yg kehidupannya baik2 dan dia sudah tau solat itu wajib, tapi ga solat, apakah dia baik dihadapan Allah? orang yg ‘TAU’ tapi ga menjalaninya dibanding dengan orang yg tau dan menjalaninya walopun masih aja suka buat dosa dia adalah lebih baik dari orang yg tau tapi ga menjalaninya. orang yg mengetahui kebenaran tapi ga masuk ke dalamnya akan lebih buruk dari pada orang masih suka berbuat dosa tapi dia sudah berada di dalam kebenaran. sama halnya dengan solat, si A amalan solat sunnahnya banyak tapi solat wajibnya ditinggalkan dibandingkan dnegn si b amalan solat sunnahnya sangat sdikit tapi wajibnya dijalankan, mana yg lebih baik (seharusnya bukan mana yg lebih baik sih tapi mana yg akan selamat)?

    smoga dari ngobrol ini, kita bisa kenal lebih dekat dan lebih baik, jadi sohib mungkin? hehehe :) insyaAllah ya…

  • Putie // 24 June 2009 at 10:42 am

    Sama-sama mbak, makasih.. Jadi sohib? mungkin aja.. kenapa nggak? salam kenal ya :)

  • d3stealther // 25 June 2009 at 4:35 pm

    “Perempuan itu adalah aurat, maka apabila ia keluar dari rumahnya maka syetanpun berdiri tegak (dirangsang olehnya)” (HR. Turmudzi)

    “Rasulullah SAW berkata, “Hai Asma! Sesungguhnya perempuan itu apabila telah dewasa (balig), maka tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya melainkan ini dan ini.” Rasulullah SAW berkata sambil menunjuk muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangannya sendiri.” (HR. Abu Dawud dari Aisyah)

    itu hadis yg paling jelas dan sahih tentang aurat wanita dan diakui oleh ulama2 islam yang berakal bukan oleh ulama2 islam yng tercemar pikirannya dgn paham barat. sbenernya masih ada hadis2 lainnya, tapi hadis diatas cukup jelas kok.

    yg mnejadi masalah khilafiah adalah hanya pada masalah wajah dan telapak tangan, apakah wajib ditutp juga atau tidak, karena sebagian ulama berpendapat harus ditutp sebgian lainnya mengatakan bahwa wajah boleh dibuka. masalah khilafiah pada masalah ini adalah wajar, pilih yg mana saja boleh, akan tetapi pendapat yg mengatakan bahwa jilbab itu adalah masalah khilafiah itu adalah sebuah ketidakwajaran di dalam islam karena jumhur ulama berpendapat yg sama soal jilbab kcuali telapak tangan dan wajah.

    jadi sebetulnya mba sendiri udah tau soal ini bahwa tubuh wanita itu adalah aurat kecuali tangan dan wajah, hanya saja pikiran mba skrg ini sedang terpengaruh oleh upaya2 jahat iblis, karena mba sendri yg bilang bahwa sebelumnya mba sudah yakin bahwa jilbab itu wajib. sama aja seperti contoh ini, misal si fulan dulu yakin islam itu benar, tapi dia sekarang jadi ragu dngan kebenaran islam, nah itu kan karena pengaruh jahat iblis yg membuat manusia itu ragu dan berpaling dari kebenaran… na’udzubillahi min dzalik.

    jadi, jilbab itu wajib bagi perempuan muslim yg sadar dan berakal. mau diikuti bagus, ditinggalkan silahkan, ga ada paksaan. mau tetap ragu silahkan juga, yg penting masalah ini adalah jelas ga ada keraguan sdikitpun didalamnya bagi orang yg berakal. keraguan yang muncul adalah akibat dari penyimpangan2 pemikiran di dalam islam yg berasal dari kaum yg membenci islam tapi berjubah islam, mereka manis dihadapan kita, mulut mereka indah dalam dakwah, mereka memakai jubah ulama, tapi dibalik itu upaya jahat mereka dibawah komando iblis. kemunafikan merekalah yang hendak memadamkan cahaya Allah di muka bumi ini dgn berbagai macam tipu muslihat mereka, tapi skali2 tidak, kebenaran akan tetap bersinar di dalam dada umat islam yang berakal.

    kesimpulan: ayat2 didalam alquran berkenaan dengan aurat dan jilbab wanita adalah jelas dan bersifat universal, berlaku dimanapun berada. perintah tersebut sudah jelas dan diperjelas oleh hadis sahih dan dituntun oleh ulama2 islam yang berakal. kalo ada ulama2, besar sekalipun, yg menjadikan masalah jilbab itu khilafiah, atau ga usah masalah jilbablah, masalah simple dan jelas lainnya aja deh yg berkenaan dengan hukum dan syariat islam tapi masih juga dipertentangkan, inilah akhir zaman, yg salah akan terlihat benar dan yang benar akan terlihat salah. itulah tipu muslihat iblis:) smoga bisa tercerahkan dan kembali ke jalan pikiran yg benar mumpung masih hidup:)

    “Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” QS.3:7

  • Putie // 26 June 2009 at 4:24 pm

    Makasih mbak. Btw, saya udah baca juga dua hadis itu. Saya akan pakai jilbab jika saya yakin. Bisakah mbak menggugah pandangan saya, mengingat dulu saya pernah berpikiran jilbab itu wajib meskipun belum pakai, tapi sekarang malah kayaknya berarti kemunduran nih.. :D

    saya lebih sreg sama alasan hadis kedua daripada hadis pertama. Karena di hadis itu kesannya kok jadi wanita itu gimana ya…. sedangkan saya yakin islam itu nggak patriarkis atau melulu memihak pria. Contohnya: kenapa pria yang dijadikan kepala rumah tangga bukan wanita padahal wanitanya misalnya lebih pintar dari pria? Trus kenapa Allah menciptakan wanita harus susah-susah melahirkan dan mengandung sedangkan pria tidak? I accept. Karena logikanya, pria lebih tidak sensi ketimbang wanita.. dan As a return, pria bertanggung jawab penuh thd keluarganya nanti di akhirat, sesuatu yang wanita tidak harus seberat itu memikulnya.

    Hm, kalau bicara logika dan berakal, harusnya memakai jilbab masuk akal juga ya.
    Pertanyaan saya:

    1. Kalau wanita pakai pakaian sopan meskipun tidak islami (misalnya celana panjang yang nggak ketat dan baju hem tangan panjang yang nggak ketat juga dan tidak transparan. Tapi teteeeppp tidak pakai jilbab), secara logika, kenapa rambut bisa merangsang pria sehingga harus ditutupi?

    2. Dan muka, kenapa nggak sekalian ditutupin? soalnya muka lebih potensial merangsang laki-laki dibanding rambut? kenapa di hadis kedua malah lebih berat menutup rambut ya dibanding menutup muka?

    Btw, saya rasa komentar mbak deshalter agak tendensius. Benar sekarang saya sedang ragu soal jilbab, mungkin karena pengaruh setan juga, tapi saya nggak pernah ragu dengan islam. Saya ini pemikir lho, nggak serta merta menerima islam begitu saja. Nggak salah toh berpikir? jadi kalau saya yakin dengan islam, ya berarti saya sudah menemukan justifikasi kalau islam memang layak untuk diimani.

    Contohnya gini deh, orang yang lahir dari orang tua non muslim, pasti akan menganggap agama yang diajarkan orang tuanya adalah yang paling benar jika dia tidak mau berpikir. Padahal menurut islam kan harusnya tidak begitu. Makanya diperlukan berpikir apakah agama yang saya anut sejak lahir adalah yang paling benar? saya sudah melalui tahap itu, dan alhamdulillah saya yakin.

    Jadi, perihal yakin terhadap jilbab nggak sama tingkatannya dengan perihal keimanan terhadap islam.. Mungkin perihal jilbab bisa setara dengan alkohol bukan dengan agama islam.

    Contohnya gini: pengalaman teman saya, orang islam yang lahir di indonesia umumnya tahu kalau alkohol itu dilarang. Sejauh apa alkohol itu dilarang? nggak jelas juga kan? tape itu beralkohol lantas apakah haram? Nah, begitu tinggal di negara non muslim pandangan terhadap alkohol berubah. Satu gelas di musim dingin bisa menghangatkan badan, asal nggak kecanduan. Jadi dia berpikir ulang, alkohol itu haram apa nggak? dulu dia yakin alkohol haram, sekarang jadi bingung.

    Nah, maksud saya, kondisi yang diperbandingkan harusnya begitu. harus setara. jangan alkohol dengan islam atau jilbab dengan islam.
    Nggak sama lho antara pernyataan:

    1. Dulu yakin ttg jilbab sekarang nggak lagi
    2. Dulu yakin ttg islam sekarang nggak lagi

    Nggak yakin terhadap jilbab, dia masih muslim. Nggak yakin terhadap islam? dia bukan lagi muslim.

  • d3stealther // 30 June 2009 at 5:02 pm

    1. Kalau wanita pakai pakaian sopan meskipun tidak islami (misalnya celana panjang yang nggak ketat dan baju hem tangan panjang yang nggak ketat juga dan tidak transparan. Tapi teteeeppp tidak pakai jilbab), secara logika, kenapa rambut bisa merangsang pria sehingga harus ditutupi?

    ya bisa saja, knapa ga bisa? kalo memang rambut wanita mnurut mba itu ga merangsang pria, coba pikir, buat apa adanya petunjuk jilbab di dalam islam untuk menutup rambut wanita? smua yg datang dari Rasul itu ga ada yg sia2 mba. Ga smua pria tergoda dan/atau terangsang dngan melihat rambut wanita, tapi ada juga pria yg tergoda dgn hanya melihat rambut wanita. makanya rambut wanita pun harus ditutup.

    2. Dan muka, kenapa nggak sekalian ditutupin? soalnya muka lebih potensial merangsang laki-laki dibanding rambut? kenapa di hadis kedua malah lebih berat menutup rambut ya dibanding menutup muka?

    analogi pertanyaan ke-2 sperti ini knapa solat subuh itu kok cuma 2 rekaat? knapa ga 3 rekaat aja, atau 4 rekaat atau 5 rekaat sekalian, kan banyak rekaat lebih bagus? spertinya kita lebih pintar dari Rasul ya, hehehe.. itu semua udah aturan mba, namanya fiqih. soal muka knapa ga ditutupin sekalian, kan hal itu udah ada khilafiah diantara ulama islam, ada yg berpendapat harus ditutup juga, ada juga yg berpendapat tidak harus. Terserah mau ikut yg mana? yg penting saya beritahukan kepada mba kalo soal jilbab ga ada lagi masalah khilafiah, karena jelas ada petunjuk dari sunnah, smua ulama sepakat dan sependapat kecuali masalah wajah dan tangan. skarang tinggal kita, mau kita laksanakan apa ga?

    “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” QS.59:7

    skrang mba mau meragukan petunjuk dari rasul? padahal petunjuk itu sudah jelas diakui dan disepakati jumhur ulama islam apapun mazhabnya. ga ada perbedaan pendapat mengenai jilbab kcuali masalah wajah dan tangan. kalo wajah mau ditutup juga ya silahkan, itu akan lebih baik apabila yg menjalankannya merasa nyaman, toh ga diikuti juga ga apa2, karena rasul sudah memberikan petunjuknya dgn jelas, muka dan wajah itu ga harus ditutup.

    yg tadinya yakin kemudian ragu itu sudah pasti pengaruh setan, bukan mungkin lagi mba. spertinya ga ada lagi urusannya dgn keyakinan mba yg ga ragu dgn islam. karena mba sudah mengakui kebenaran islam, skarang tinggal masalah2 di dalam islam itu sendiri yg mba harus perdalam, sperti jilbab, mba sudah pernah yakin, tapi skrang ini meragukannya lagi, bukankah itu juga termasuk dari berpaling dari kebenaran? note: iblis itu berkutat di dalam hati dan pikiran manusia.

    berpikir itu bagus apalagi sampai menemukan kebenarannya, sayapun juga pemikir, tapi kalo sudah berpikir dan buah hasil berpikirnya itu malah menjadikannya ragu dengan kebenaran yg memang benar (jelas dari sunah dan tuntunan para ulama) padahal sebelumnya dia yakin, apakah itu bagus? bahkan sampai mencari2 takwil untuk melemahkan hujjah yg sebelumnya diyakini kebenarannya… na’udzubillahi min dzalik.

    saya tau kalo perihal tingkatan meyakini kebenaran wajibnya jilbab itu ga sama dgn keimanan islam, tapi yg saya maxut disini hanyalah analogi mba, analogi yg saya maxut itu adalah kebenaran yg sudah diyakini kemudian diragukan lagi inilah yg saya maxut, inilah pengaruh iblis supaya orang tersesat di dalam pemikiran walaupun dia sudah masuk islam. orang yg sudah islam dan meyakini islam itu benar, tapi dia tidak menjalankan dan tidak taat dgn apa2 yang telah diajarkan islam, bisakah kita katakan dia selamat diakhirat nanti?

    “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” QS.7:179

    itu ayat ga cuma untuk orang2 kafir dan musyrik saja mba, orang islam masuk didalamnya. Orang islam? ya, orang islam yang tidak menjalankan dan tidak taat apa yg diperintahkan oleh islam karena dia sudah melihat dan mendengarnya.

    berkenaan dgn itu, banyak sekali hadis2 sahih yg mengabarkan kepada kita semua bahwa banyak sekali musibah akhirat yg ditimpa kepada prempuan2 muslim yg meninggalkan kewajiban berjilbabnya. musibah itu berat bagi yg telah mengakui kebenarannya tapi kembali meragukannya. apa yg saya maxut dari komentar2 saya hanya memperingatkan mba saja, karena mba sebelumnya sudah mengerti dan yakin dgn jilbab. kalau mba blum pernah tau kewajiban soal ini, saya ga akan mengomentari dgn peringatan2 seperti ini, mungkin mba bilang seperti tendensius. banyak sekali ayat2 dan hadis2 berupa kecaman2 bagi orang2 yang ragu dengan kebenaran apalagi setelah dia meyakininya tapi dia kembali kepada keraguan itu.

    well, saya rasa sudah banyak peringatan yang masuk ke telinga mba atau peringatan yg mba lihat, termasuk dari apa yg saya sampaikan kepada mba. mnurut saya sudah sangat sangat jelas bagi mreka yang sadar. karena, Mnurut apa yg saya liat dari mba itu cuma skedar keengganan saja untuk berjilbab, bisa jadi masih malas, atau juga karena perilaku kawan2 mba yg berjilbab tapi salah cara penyampainnya hingga akhirnya mba mrasa risih dgn orang2 yg berjilbab hingga akhirnya juga mba jadi brpikiran buruk terhadap mereka yg berjilbab dgn mengatakan ada diantara mereka yg berperilaku buruk dan lain sebagainya, dan selalu melihat dari sisi itu saja. dan hingga juga mba mncari pembenaran2 lain untuk menafikan hukum wajibnya jilbab.

    “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” QS.2:147

    kalau blum juga tercerahkan, saya rasa cukup jelas apa yg saya sampaikan. kalau mba masih juga punya ide2 cemerlang demi mengikuti ego untuk mengubah pandangan wajibnya hukum berjilbab, silahken.:)

    wassalam.

    PS: komentar saya dikhususkan bagi mereka yg memang bertujuan memutarbalik kebenaran hukum wajibnya jilbab termasuk mereka yang mendukungnya.

    “Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik.” QS.2:99

    “Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” QS.47:25

    “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu[348] dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” QS.4:115

  • Putie // 30 June 2009 at 10:12 pm

    Mbak,

    Saya pikir, saya sedang dalam proses berpikir, dan tolong itu dihargai sebagai proses pembelajaran, bukannya malah dicemooh: “wah, dia udah terbujuk syetan, pake nyari pembenaran segala supaya jilbab jadi nggak wajib”. Kalau mbak memang lebih merasa tahu dari saya, tolong jawab saja pertanyaan saya tanpa menghakimi kalau saya berniat mencari-cari alasan supaya jilbab jadi nggak wajib. Apakah saya salah bertanya “kenapa”? Saya rasa tidak. Karena saya memang perlu tahu alasan-alasan logis dibalik hadis itu. Bukan berarti saya merasa lebih pintar dari Rasulullah, tapi saya yakin Rasulullah kita tercinta itu pun pasti nggak akan asal ngomong. Pasti dia punya alasan logis dibalik itu, dan itu yang saya ingin tahu. Kebanyakan orang Indonesia memang begitu sih.. nggak pernah dibiasakan untuk bertanya “kenapa”. Jadi kalau ada orang yang nanya “kenapa ini begini, kenapa itu begitu”, langsung dihakimi macem-macem. Jadi saya menangkap kesan kalau narasumber malah takut ditanya.

    Selain itu, mbak nggak knal dengan saya secara pribadi, jadi sebaiknya memang tidak menjudge apapun tentang saya. Memang benar saya dulu pernah menganggap jilbab itu wajib. tau kenapa? karena saya menelan mentah2 apa yang saya terima sejak kecil. Saya belum berpikir. Ketika saya sedang dalam proses berpikir untuk mencari tahu, ya tolong dihargai. Kalau dalam proses berpikir ternyata saya salah, tolong dibenarkan. Tentunya dengan cara yang tepat, bukan dengan cemoohan.

    Mudah-mudahan mbak sudah punya anak. Seorang ibu biasanya memahami bahwa salah-benar yang dilakukan anak harus dihargai karena itu proses pembelajaran bagi anaknya. Anak berbuat salah? ya dibetulkan. Dengan cara yang tepat tentunya, bukan dengan cemoohan. Nggak akan kena. Malah akan membuat anak jauh secara emosional dari ibunya. Anak nggak akan mau cerita apa-apa lagi sama ibunya. Kalau cara pembelajaran tidak dihargai seburuk apapun itu, wassalam, akan tumbuh dengan kepribadian seperti apa anak itu? paling nggak, hargailah usaha seseorang untuk mencari tahu.

    Itu yang saya selalu bilang, wanita berjilbab, apalagi yang jilbabnya panjang, selalu saja merasa lebih beriman dan lebih tahu ketimbang yang tidak berjilbab. Selalu saja men-judge yang tidak-tidak terhadap yang tidak berjilbab apalagi dengan orang yang berpemikiran seperti saya. Kenapa ya? Padahal sudah saya bilang lho, saya sedang berusaha mencari tahu soal jilbab, bukan keputusan final untuk tidak berjilbab.

    Cara berpikir kaum mbak, dengan yang pluralis seperti saya memang berbeda. Seharusnya kalau mbak mau membuat saya “insaf” cobalah membawa ayat-ayat itu dari kacamata orang-orang seperti saya. Saya kenal diri saya. Cara dan kata-kata yang tepat akan lebih mengena ketimbang menyudutkan saya dengan kata-kata syetan, iblis, memutarbalikkan fakta, dsb. Terus terang saya nggak suka karena memang bukan itu tujuan saya. Saya hanya sedang mencari tahu soal jilbab, dan belum yakin. Just it. Bukan mau cari ribut sama Allah dg memutar balikkan fakta. Bukan ingin mengingkakri ayat-ayat Allah. Makin dicela, makin jauh saya dari jilbab.

    Tantangan juga kan buat mbak.. apakah mampu membuat saya sadar? :)

  • d3stealther // 1 July 2009 at 9:52 am

    mba ini ternyata terlalu sensitif, saya ga menuduh mba seorang yg memutarbalikkan fakta, saya hanya mengatakan bahwa komentar saya ini khusus bagi “MEREKA” yang berusaha memutarbalikkan fakta tentang hukum wajibnya berjilbab, karena mereka yg sperti itu banyak mba, mreka itu memang orang liberal sesat yg menyesatkan, kalo mba bukan termasuk dari mereka ya ga usah tersinggung. Mengenai komen saya tentang iblis atau setan atau apalah, itu kan saya berikan penjelasan bahwa keraguan yg timbul setelah yakin akan kebenaran itu jelas pengaruh iblis atau setan, apakah salah saya berkata seperti itu? memang benar seperti itu bukan? siapapun yg mengalami keraguan setelah kebenaran pasti itu pengaruh iblis sadar atau tidak sadar, ga salah donk saya memperingatkan, “Hati2 mba, pengaruh iblis, pengaruh setan itu dahsyat untuk memalingkan manusia dari kebenaran!”

    banyak mba tulisan2 sejenis sperti tulisan mba, dan kebanyakan mereka itu dari kalangan liberal. mereka pun berkomentar yg sama sperti mba dengan dalih mencari kebenaran, bahkan sangat hebat sekali, tapi untuk mba oklah saya ga menganggap mba itu dari mereka, tapi stidaknya komentar saya cukup menjelaskan bagi orang2 yg awam supaya ga tersesat dgn pengaruh2 sesat iblis, karena setelah membacanya pasti akan ada orang2 yg mengikuti yg benar dan akan ada juga orang2 yang mengikuti kesalahan yang “dibenarkan”. jadi sebenernya komen saya bukan hanya untuk mba saja, tapi untuk orang banyak. ya, saya tetap berhusnuzhan bahwa mba memang mencari kebenaran berjilbab dgn hukum wajibnya, tapi karena mba pernah yakin, ya saya berikanlah peringatan2 diatas. Rasulpun seperti itu, apabila umatnya sudah diberikan petunjuk2 yg jelas, tapi mereka tidak juga meyakininya apalagi setelah mereka yakin tapi kembali meragukannya, maka peringatan2 keras itu keluar dari Rasul, dan juga tertulis jelas2 di dalam ayat2 al-quran. dan karena memang masalah jilbab itu sangat sangat jelas tapi anehnya kembali diragukan? ayat dan hadis pun jelas menjelaskan yg kabur. bahkan saya katakan hal ini ga ada yang kabur karena para ulama pun menyepakatinya bersama tanpa ada perbedaan kecuali masalah wajah dan tangan. perbedaan dibagian itu tidaklah hal yg prinsip. kecuali para ulama2 berjubah yg liberal. mau dia profesor kek, ustad besar, kiyai, tapi kalo pandangannya menyimpang dari kebenaran yg memang sudah jelas, well, go to hell.

    saya sangat menghargai mba yg sedang berpikir (kalau memang benar2 berpikir. Apalagi yg mau dipikir wong udah jelas bgt kok hehe.., yah memang hebat iblis itu mengaburkan yg sudah jelas, salahkah saya berkata seperti ini?)

    mba, mengenai pertanyaan “kenapa” terhadap segala hal, ya itu bagus, knapa ga boleh bertanya seperti itu? TAPI, kalo masalah sudah jelas dan begitu banyak hujjah yg jelas dan logis yg mba baca ataupun mba lihat tapi masih juga ga jelas didiri mba, ya itu jadinya aneh. Ayat2 dan hadis berkenaan dengan jilbab itu jelas bagi umat, dan jelas pula alasan2 logisnya kenapa ada hukum wajibnya berjilbab. Nah kalo sudah dijelaskan tata cara berjilbab dari Nabi itu bgini dan bgitu, knapa musti ditanya lagi kan sudah jelas kenapa hukum wajjibnya jilbab itu diberlakukan, apa dampaknya apabila tidak diikuti dll. masalah pertanyaan mba “kenapa” itu yang mana lagi? masih juga kenapa kok rambut lebih diberatkan daripada wajah? ya itu sudah masuk ke ruang lingkup fiqih mba, sama halnya solat, “kenapa” musti solat? ya itu untuk penyembahan kepada Tuhan, skarang bagaimana caranya solat, ya nabi berikan tata caranya, trus kita masih juga mau tanya, kenapa 2 rekaat? 3 rekaat? 4 rekaat? hal ini sudah menyangkut fiqih dan hanya Allah yang tau. Penjelasan logisnya itu ada pada “kenapa” kita musti solat, disitu mba. masalah tatacaranya ya itu sudah ketentuan yang apabila kita tanya lagi kenapa gitu knapa gini ya pasti jawabannya ya itu ketentuannya seperti itu. saya mau tanya, adakah penjelasan (logisnya) kenapa solat subuh itu 2 rekaat kok ga 1 rekaat aja, dan solat2 lainnya kenapa kok rekaatnya sekian sekian? itu analogi.

    Nabi didalam hadis banyak sekali menjelaskan hukum berjilbab, efek, dampak, segala hal yg logis tentang pengaruh jilbab bagi wanita muslim, dan Nabi pun juga akhirnya memberitahukan kepada kita bagaimana kita harus berjilbab yg baik dan benar. Nah, ketentuan apa yg harus ditutup itu ya sudah ketentuan fiqih dari Allah yg diturunkan kepada Nabi dan disampaikan kepada umatnya, karena penjelasan logisnya sudah ada pada saat sebelum jilbab itu diberlakukan. PASTI nabi menjelaskan itu. dan penjelasan2 nabi itu sudah sampai kepada kita. Tidak ada lagi yg ga jelas mengenai hukum jilbab dan tatacara berjilbabnya.

    Sejak kecil mba sudah mengetahui wajibnya jilbab, tapi meranjak dewasa hidayah itu hilang, saya rasa mba bukan menelan mentah2, karena apa yg sampai kepada mba itu adalah kebenaran yang haq yg seharusnya terpelihara hingga mba dewasa bahkan hingga mba wafat nanti. Kalaupun mba bertanya2 disaat itu tentang jilbab seharusnya semakin jelas tetang hukum wajibnya berjilbab bukan malah mengaburkan dan meragukannya karena mba sudah pernah meyakininya. saya katakan lagi, hati2 dngen pengaruh dahsyat iblis yg selalu menyesatkan manusia, membenarkan yg salah dan menyalahkan yg benar, mengaburkan yg jelas dan menjelaskan yg kabur. dia berkutat kuat di dalam pikiran dan hati manusia.

    Alhamdulillah saya punya anak, saya pun mngerti apa yg mba maxut tentang pendidikan pembelajaran dan cara berpikir seorang anak. Saya sudah berusaha meluruskan proses berpikir mba yang salah. dan perkataan tentang usaha saya untuk meluruskan cara pandang mba itu bukan cemoohan, tapi sangat tepat apabila dikatakan peringatan, karena peringatan2 sperti itu lumrah bagi mereka2 yg tersesat, dahulu nabi pun memberikan pringatan2 dngan kecaman2 yang keras bagi mereka yg kembali kepada jalan pikiran mereka yang sesat apalagi kepada mereka yang telah masuk ke dalam kebenaran tapi mereka meragukannya. karena knapa? karena petunjuk yg sampai kepada mereka itu adalah hal2 yg jelas dan logis yg tidak sulit, termasuk didalamnya masalah berjilbab.

    “Itu yang saya selalu bilang, wanita berjilbab, apalagi yang jilbabnya panjang, selalu saja merasa lebih beriman dan lebih tahu ketimbang yang tidak berjilbab. Selalu saja men-judge yang tidak-tidak terhadap yang tidak berjilbab apalagi dengan orang yang berpemikiran seperti saya.” jangan su’udzhan mba, saya mengerti skali mba ini sangat kesal dgn mereka2 yg seperti itu, hingga mereka itu besar dimata mba dan akhirnya mba enggan untuk berjilbab hanya karena wanita berjilbab dimata mba itu seperti itu. Ya ini juga, saya katakan hati2 dgn tipu muslihat iblis didalam pikiran dan hati yg menimbulkan sifat dengki yg akan menjauhkan manusia dari kebenaran, apa pemicunya? EGO.

    Saya bukan ingin membuat mba insyaf atau membuat mba sadar, tapi saya hanya meluruskan pandangan2 yg bersifat menyesatkan bagi orang banyak. Urusan insyaf atau tidak insyaf sadar atau tidak sadar, itu dikembalikan kepada orangnya. Karena pilihan itu ada pada diri setiap manusia. Mau pilih yg benar atau salah, itu manusialah yg memilih. Pilih yg benar karena hujjah kebenaran itu jelas bagi dirinya, pilih yg salah itu karena ego dan hawa nafsu manusia yg mengalahkan akalnya dari kebenaran. Ayat2 yg saya sampaikan kepada mba itu adalah jelas, tidak hanya untuk apa yg mba katakan “kaum saya” atau orang2 pluralis, tapi bersifat universal, bagi manusia2 yg berakal dan sadar.

    “Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik.” QS.2:99

    “Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” QS.6:55

    “(Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya.” QS.24:1

    “Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” QS.17:12

    “Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas.” QS.5:32

    “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” QS.4:115

    “Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” QS.47:25

    “Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” QS.7:174

    Wassalam.

    PS: “kalau mba masih juga punya ide2 cemerlang demi mengikuti ego untuk mengubah pandangan wajibnya hukum berjilbab, silahken.:)” perkataan ini untuk mba jikalau mba ternyata “BENAR2″ seorang liberal yg berdalih. Semoga memang benar2 bukan tapi memang mencari kembali kebenaran yg telah sampai tapi hilang di alam pikirannya.

  • Putie // 1 July 2009 at 4:18 pm

    Wah maaf ya mbak. Saya nggak bisa berdebat lagi kalau caranya sudah seperti ini. Beda orang, beda cara pendekatan bagaimana supaya dia bisa menerima kembali suatu kebenaran. Kalau orang yang satu bisa dengan mudah dijejali, orang yang satunya belum tentu, harus dengan cara lain, katakanlah persuasif.

    Karena jujur saja bukan cara diskusi menyudutkan seperti ini yang saya inginkan, dituduh seolah-olah saya dengan sengaja dan dengan sadar ingin membantah perintah Allah. Tersinggung? jelas. Karena sejauh ini saya merasa bukan sebagai seorang liberal yang dengan sengaja hendak melawan Allah. Wah astaghfirullah deh, mbak.

    Teman saya yang lain yang membaca komen mbak pun mengatakan hal yang sama; menyudutkan. Kebayang kan gimana saya sebagai yang punya tulisan?

    Mungkin karena mbak nggak kenal saya secara pribadi, jadi kata-kata mbak seperti di atas bisa deras mengalir.

    Awal-awal mbak kasih komentar dulu, masih dengan cara baik, selalu saya tunggu komen balik dari mbak lho.

    Tapi anyway, terima kasih sudah mengunjungi blog saya, dan kasih komen. Saya open mind kok, selama nggak dicap ini itu ya. Kalau belum apa-apa udah disudutkan ya males debatnya.

    Dan saya tidak mengingkari satu ayatpun yang mbak kasih di atas. Mudah-mudahan bisa segera membuka mata hati saya untuk berjilbab.

  • d3stealther // 2 July 2009 at 2:44 pm

    Well, kalo ga mengingkari satu ayatpun berarti mba sudah mengerti dan yakin ya soal wajibnya hukum berjilbab beserta penjelasan2 yg ada dan yg pernah mba baca atau mba dengar. Tapi sbtulnya apa yg saya tangkap dari mba sih spertinya memang sudah tau dan yakin wajibnya jilbab dan jelas dgn penjelasan2 logisnya knapa harus berjilbab. Mba cuma sedang terpengaruh dgn pikiran2 yg mengganggu keyakinan mba saja bahwa berjilbab itu memang wajib tapi terasa sangat berat untuk melaksanakannya. (baca: campur tangan iblis yg membuat pikiran2 dan hati manusia itu menjadi bingung dan ragu, dan juga ego yg membuat manusia itu susah membenarkan kebenaran yg nyata)

    Saya rasa tinggal tunggu tergeraknya hati mba untuk melakukan pelaksanaannya. Congratz!:)

    finally, gud luck fer da journey:)

  • Putie // 2 July 2009 at 4:34 pm

    Memang saya nggak mengingkari. Siapa bilang saya mengingkari ayat Allah? Berniat untuk mengingkari pun tidak. Wah salah persepsi lagi si mbak ini. Mungkin kita susah untuk nyambung ya…?

    Ayat al-quran ttg menutup aurat pun ga saya ingkari. Saya nggak suka pake bikini kecuali kalo di depan suami saya. Kalo keluar kamar tidur? Jangankan bikini, you-can-see aja nggak pernah. Pakaian saya selalu sopan. Apalagi keluar rumah. Saya lebih sering bercelana panjang, baju tangan panjang, nggak ketat, nggak transparan, tapi tanpa jilbab!

    In case mbak lupa awal permasalahan saya nulis di blog ini, karena quran ga state dg jelas batas aurat, maka kita harus mengacu ke hadis. Nah, sementara di bukunya quraish, dia cuma mengemukakan pandangan ulama2 (yang strik dan yang tidak) ttg tingkat kesahihan hadis ttg jilbab. Dan kesimpulan akhirnya? ya pembaca sendiri yg nentuin. Saya pun sudah tahu hadis2 yang mbak bilang di atas. Mungkin mbak harus baca sendiri bukunya.

    Nah, kesimpulannya, setelah baca buku itu, kalo saya sih belum se-yakin itu kalau jilbab wajib. Makanya saya bingung. Terlebih lagi melihat anggota keluarga wanita quraish, gus dur, amien. Oke, mungkin saya salah berlogika, tapi logikanya begini:
    1. Mereka ulama kaliber dengan tingkat pengetahuan ttg Al-Quran dan hadis yang sangat luas.
    2. Kalau jilbab memang harga mati, dengan pengetahuan seluas mereka, kenapa mereka mengizinkan anggota keluarga mereka nggak berjilbab? nggak takutkah akan azab Allah thdp anak-istrinya kalau jilbab memang wajib? Nggak sayangkah mereka sama anak-istrinya? pasti ada alasan kuat dibalik pola pikir mereka.

    Saya belum berjilbab bukan karena “saya-yakin-jilbab-itu-wajib-tapi-saya-nggak-mau-pakai” seperti kebanyakan orang.
    Yang saya butuhkan sekarang ini adalah bertukar pendapat dg orang lain. Kalau saya akhirnya:

    1. Saya bisa berdiskusi dengan ulama yang pengetahuannya luas
    2. CARA DAKWAHNYA mendidik dan tidak menyudutkan saya sehingga bisa membuat saya yakin, Baru saya akan pakai jilbab.

    Saya juga nggak setuju yang mbak bilang ttg ego. Mbak bilang cuma ego saya aja yang membuat saya nggak mau pakai jilbab. Saya heran lho. Kok bisa? Ego wanita kan biasanya ttg kecantikan ya. Dan itu udah saya singgung di artikel, saya nggak secantik itu, nggak se-sexy itu, dan rambut saya nggak se-indah itu untuk dipamerin ke orang-orang. Lagian saya sudah bersuami kenapa harus pamer-pamer? Jadi menurut saya nggak ada alasan untuk nge-gedein ego. Karena saya memang nggak punya ego untuk memamerkan diri saya. Menurut saya point ini nggak relevan.

    Mbak, sebelumnya makasih untuk komennya, saya senang sekali mendapat respon dan bisa berdiskusi walaupun akhirnya kurang menyenangkan.

    Dan sekali lagi maaf ya. Terpaksa kolom komentar saya tutup karena saya merasa kita nggak nyambung. Selalu saja ada salah tangkap dari diskusi yang harusnya bagus ini. Saya bilang begini, mbak mengertinya beda. Mbak menjelaskan begitu, saya salah mengerti. Nggak akan ketemu. Respon saya pasti akan membuat mbak membalas, begitu juga respon dari mbak. Daripada kita berbalas pantun, mungkin lebih baik saya tutup saja kolom komennya ya :)

    Thanks for the support.

  • Like gas stations in rural Texas after 10 pm, comments are closed.